home

Rabu, 12 Januari 2011

SUPER LEADERSHIP



PENDAHULUAN
Dewasa ini banyak sekali masyarakat membicarakan tentang seorang pemimpin, dimana masyarakat membutuhkan seorang pemimpin yang handal dalam memecahkan suatu masalah, sebagai pengayom, sebagai pemersatu antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya, sebagai suatu panutan yang patut di teladani, dan pastinya dapat mengambil suatu keputusan yang tepat dan bijaksana tanpa merugikan banyak pihak.
Bagaimana dengan pemimpin Negara kita? Apakah sudah cukup baik, kurang atau bahkan sama sekali tidak mempunyai background sebagai seorang pemimpin yang patut di banggakan? Setiap orang mempunyai hak dalam berpendapat tetapi harus mempunyai alasan yang kuat dalam pendapat tersebut agar nantinya dapat di pertanggung jawabkan atas jawaban tersebut. Hal ini serupa pada pemimpin dinegara lain, dimana masyarakat dengan bebas memberikan pendapat yang bertanggung jawab serta diperbolehkan memberikan kritikan yang pedas sekalipun untuk membangun Negara menjadi lebih baik.
Dalam memimpin suatu organisasi patutlah seorang pemimpin mendengarkan pendapat-pendapat anggotanya, hal ini dapat membuat organisasi tersebut akan berkembang menjadi organisasi yang lebih baik dan demokratis. Pada tiap pemimpin sebenarnya mempunyai karakteristik tersendiri dengan berbagai macam gaya, tipe dan jenis pemimpin dengan melakukan berbagai macam cara pendekatan dalam kepemimpinan.
Pemimpin dan kepemimpinan merupakan suatu hal yang berbeda tetapi hubungannya sangat erat dan saling terkait satu sama lain, karena kepemimpinan pastinya akan dijalani oleh seorang pemimpin dalam suatu organisasi baik organisasi besar maupun organisasi kecil.
Banyak metode yang dilakukan oleh pemimpin dalam menjalankan kepemipinannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan, tetapi banyak sekali pemimpin yang mensalah artikan tugas mereka sebagai seorang pemimpin, bahkan memanfaatkan kedudukannya sebagai seorang pemimpin ke dalam masalah pribadinya yang hanya memikirkan diri sendiri sehingga tujuan dalam organisasi tersebut terhambat karena tujuan pemimpin hanya tertuju pada kesejahteraan diri sendiri.
Lalu bagaimana dengan gaya kepimpinan anda? Semua itu anda yang menentukan dan membawa organisasi yang anda pimpin menjadi sukses karena memikirkan kepentingan umum ataupun tidak sukses karena adanya penyimpangan yang dilakukan dalam organisasi tersebut.

I.                PEMIMPIN
Pemimpin adalah seorang yang memimpin suatu kepemimpinan dalam organisasi / kelompok. Pemimpin yang baik dapat dikatakan apabila dia mampu membawa keuntungan bagi pengikut dan organisasinya, pemimpinlah yang akan melangkah ke tempat  yang belum pernah dicapai oleh organisasi mereka dan kondisi yang dicapai haruslah lebih baik dari sebelumnya
Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, karena banyak hal yang harus dilakukan dan dipertanggung jawabkan serta seorang pemimpin haruslah mempunyai segala macam kemampuan tentang kepemimpinan.
Walaupun menjadi seorang pemimpin merupakan hal yang sulit tetapi bukan berarti anda tidak bisa menjadi seorang pemimpin. Siapa saja dan dimana saja seorang bertempat tinggal tanpa melihat latar belakang siapa dirinya bisa menjadi seorang pemimpin yang handal, tergantung seberapa besar kemauan anda menjadi pemimpin yang baik dan handal dalam mensejahterakan kepentingan umum.
Ada beberapa orang yang memang dilahirkan mempunyai sifat dan karakteristik menjadi seorang pemimpin, hal ini bisa dilihat dari cara komunikasi dan kharisma yang dipancarkan orang tersebut, tetapi hal ini juga dapat diperoleh oleh seseorang apabila mempunyai niat menjadi pemimpin secara tekad dan bulat dengan BELAJAR sungguh-sungguh. Salah satu caranya mencoba memberanikan diri dalam membuat suatu keputusan yang bijaksana dalam suatu kelompok kerja tanpa merugikan yang lainnya.
1.1 Pemimpin Membutuhkan Kemampuan Soft Skill Yang Baik Untuk Menjadi SUPER LEADER SHIP
Seorang pemimpin yang baik harus bisa menguasai emosi dirinya diberbagai macam keadaan,  karena itu soft skill juga sangat mempengaruhi seorang pemimpin dalam kepemimpinannya. Pemimpin tersebut haruslah bisa mendengarkan pendapat seluruh anggota , menjadi pendengar yang baik dan efektif merupakan tindakan dasar yang patut diacungi jempol, apabila seorang pemimpin tersebut mampu memberikan pidato ataupun statement  yang baik maka dapat memberikan umpan balik berupa tindakan anggota/masyarakat sesuai dengan apa yang di bicarakan oleh pemimpin tersebut.
Dalam berkomunikasipun pemimpin harus mempunyai gaya bahasa yang mampu mempengaruhi agar pusat perhatian mereka hanya tertuju pada pemimpin tersebut, sehingga anggota mempercayai pemimpin mereka dalam  membuat keputusan yang bijak dari pemecahan masalah dan konflik yang sedang dihadapi. Berkomunikasi efektif merupakan cara yang dapat dilakukan oleh seorang pemimpin dalam kepemimpinannya, komunikasi efektif mempunyai kaitan yang erat dalam bernegosiasi. Disinilah pemimpin juga harus pintar dalam melakukan negosiasi baik dalam kelompoknya maupun antar kelompok, sehingga dapat menghindari konflik dan dapat memecahkan suatu permasalahan dengan bijak karena keputusan yang diambil dari kedua belah pihak atau lebih sesuai dengan perjanjian yang dilakukan.
Kecerdasan emosi dan spiritual seorang pemimpin merupakan suatu hal yang penting, karena dari sinilah seorang pemipin dapat memberitahukan siapa dirinya, sehingga pemimpin yang baik haruslah mampu dan pintar dalam mengatur segala sesuatunya dimanapun dia berada. Sangatlah tidak baik bila pemimpin tersebut memperlihatkan bahwa dia sedang marah, sedih ataupun dalam suatu kesusahan karena nantinya akan berdampak pada kelompok yang ia pimpin.
Pemimpin juga sudah seharusnya pintar dalam public speaking karena public speaking  merupakan cara dimana seseorang harus bisa berbicara didepan umum dengan baik dan benar tanpa menyinggung perasaan orang lain, bagaimana seseorang tersebut harus melakukan presentasi yang baik sehingga pesan yang disampaikan masuk kepada khalayak yang dituju, sama seperti halnya seorang pemimpin yang memberikan pidato.
Selain itu pemimpin yang cerdas juga harus dapat bisa mengatur agenda kesehariannya. Disini manajemen diri dan waktu merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan dan dipelajari oleh seorang pemimpin. Bagaimana pemimpin tersebut dapat mengatur organisasi atau kelompok yang ia pimpin sedangkan pemimpin itu sendiri tidak dapat memanage diri dan waktunya dengan sebaik mungkin. Jadi  pemimpin tersebut haruslah dapat mengatur dirinya sendiri dan waktunya dengan sebaik mungkin sebelum mengatur waktu dan orang lain dalam kelompok / organisasi yang ia pimpin. Hal ini dapat menyebabkan sesuatu yang baik dan tersusun rapi dalam agenda yang dijalani dalam kelompok tersebut.
Menurut fakta, semakin tinggi tingkat Kepemimpinan seseorang didalam organisasi, maka semakin tinggi-lah Gengsi dari Pemimpin tersebut. Atau jika menggunakan istilah statistik, tingkat Kepemimpinan berbanding lurus dengan Gengsi Kepemimpinan .
Misalnya sebelum menjadi pemimpin, biasanya seseorang tidak memikirkan gengsi-nya untuk bertindak “bebas” (misalkan, duduk lesehan ditempat umum dengan teman-teman untuk merasakan nikmatnya rujak manis) .
Tapi setelah menjadi Pemimpin, seseorang harus berpikir 1000 kali untuk bertindak “bebas” seperti contoh diatas. Ketika ditanya alasannya, GENGSI / JAGA IMAGE (Jaim) menjadi alasan yang utama.
Bila memang ingin menjadi seorang pemimpin bisa dilakukan dengan mengikuti berbagai macam organisasi dari organisasi kecil hingga organisasi besar. Dalam kelompok kecilpun kita bisa belajar menjadi pemimpin bisa dimulai dengan kelompok belajar dan kelompok lainnya. Dalam keluargapun akan ada yang harus menjadi seorang pemimpin untuk menuntun keluarga tersebut. Banyak hal dasar yang dapat diilakukan bila ingin menjadi pemimpin, jadi sekarang tinggal anda sendiri yang menentukan bagaimanakah diri anda.
1.2   Jenis-jenis Pemimpin
Kepemimpinan merupakan masalah yang mempunyai banyak segi.  Oleh karena itu, kita dapat memandangnya dari berbagai sudut: cara pengangkatannya, keresmian kedudukannya, kemampuannya, gaya kepemimpinannya.  Dari perbedaan sudut pandang itu kita dapat mengelompokkan pemimpin menjadi beberapa jenis:
Pemipin keturunan - Pemimpin paksaan
 Seseorang dapat menjadi pemimpin dengan berbagai cara.  Ada yang karena keturunan seperti raja-raja zaman dahulu atau kiai di pesantren.  Ada yang karena dipilih menurut aturan pemilihan tertentu, seperti Presiden.  Ada yang ditunjuk oleh penguasa yang lebih tinggi, seperti kepala kantor di Indonesia.  Ada yang begitu saja tumbuh menjadi pemimpin, seperti kebanyakan pemimpin informal dalam masyarakat pedesaan.  Ada yang karena dipaksa oleh keadaan yang mendesak, seperti para tokoh kemerdekaan di pelbagai negara ketika terjadi perebutan kekuasaan.
Pemimpin resmi – pemimpin tidak resmi
Pemimpin resmi adalah pemimpin yang menduduki kursi kepemimpinan yang termasuk dalam suatu lembaga tetap dalam masyarakat.  Presiden, menteri, gubernur, kepala desa, adalah contoh pemimpin resmi dalam megara Indonesia.  Mereka ini mempunyai nama jabatan dan tugas tanggung jawab yang sudah dirumuskan dengan tegas.  Sedangkan pemimpin tidak resmi adalah pemimpin yang tidak menduduki suatu tempat tertentu dalam kerangka struktur kemasyarakatan.  Mereka ini tidak memiliki nama jabatan serta tidak dibebani tugas dan tanggung jawab yang jelas.  Namun daya kepemimpinannya terasa dalam peristiwa-peristiwa kemasyarakatan yang penting.  Mereka mampu menggerakkan dan mengarahkan kegiatan sekelompok orang tertentu untuk mencapai suatu tujuan dan cita-cita bersama.
Pemimpin ideologis – pemimpin eksemplaris
Dalam pemimpin ideologis, pemimpin jenis ini mungkin tidak ahli dalam menyusun rencana kerja dan pelaksanaannya.  Mungkin juga dia tidak memiliki pribadi yang mengesankan.  Namun, dia dianugerahi pikiran yang hidup.  Otaknya penuh dengan gagasan-gagasan yang bagus.  Dia kaya dengan visi yang tinggi-tinggi.  Dan, hebatnya lagi, dia mampu merumuskan gagasan dan visi itu secara tepat dan dapat mengkomunikasikannya kepada para pengikutnya dengan cara yang memikat.  Melalui gagasan dan visinya itu pemimpin ideologis dapat mempengaruhi dan menggerakkan para pengikutnya.  Bahayanya, pemimpin seperti ini mungkin dapat berbicara tentang hal-hal yang muluk dengan cara yang menarik, namun pada umumnya dia tidak mampu membantu para pengikutnya untuk mewujudkan gagasan-gagasan tersebut.  Pemimpin jenis ideologis ini perlu didampingi oleh pembantu-pembantu yang mampu menangkap gagasan-gagasan dan visi si pemimpin serta menyusun rencana kerja yang sesuai untuk mewujudkan gagasan-gagasan tersebut.
Pemimpin eksemplaris.  Pemimpin jenis ini mungkin tidak memiliki gagasan-gagasan yang hebat, daya penggerak masa yang dahsyat atau daya tarik pribadi yang aduhai.  Tetapi di memiliki citra hidup yang menjadi sumber pengaruh dan penggerak yang tidak dapat diragukan.  Pemimpin ini mampu menciptakan irama dan gaya hidup yang mengesankan.  Dengan menyaksikan gaya hidup pemimpin itu, orang lain merasa tergerak, ditarik dan dibuat semangat, bukan menuju ke pribadi pemimpin itu melainkan kepada nilai yang dihayatinya dan cita-cita yang melandasi hidupnya.  Dengan praktek hidupnya, diam-diam orang itu mengajak orang lain untuk menghayati dan mengejar nilai dan cita-cita hidup yang bukan sembarangan.  Dengan teladan hidupnya, dia menjadi sumber dorongan dan semangat bagi orang-orang lain.  Pemimpin eksemplaris, pemimpin teladan, memimpin orang lain dengan hidupnya sendiri.
Pemimpin otokratis – pemimpin demokratis
Agar dapat menjalankan tugasnya setiap pemimpin diberi wewenang atau kekuasaan.  Berdasarkan wewenang itu seorang pemimpin dapat membimbing, mengantar, mengarahkan, menyatukan dan menggerakkan para pengikutnya menuju ke tujuan dan cita-cita bersama.  Perbedaan cara penggunaan wewenang ini menciptakan gaya kepemimpinan yang berlainan.  Pada dasarnya, kita mengenal tiga gaya kepemimpinan: gaya otokratis, liberal,  dan  demokratis, yang nanti akan di bahas di gaya kepemimpinan.

1.3   Tipe-tipe Pemimpin
Tipe otokratis.
Seorang pemimpin yang otokratis memiliki ciri-ciri dalam kepemimpinannya sebagai berikut :
          Menganggap organisasi sebagai milik pribadi;
          Mengindentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi;
          Mengangap bawahan sebagai alat semata-mata;
          Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat;
          Terlalu tergantung kepada kekuasaan formilnya;
          Dalam tindakan penggerakannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur pemaksaan dan punitif (bersifat menghukum).
Tipe militeristis.
Seorang pemimpin dengan tipe militeristis tidak berarti selalu seorang pemimpin dari organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis adalah seorang pemimpin yang memiliki ciri-ciri dalam kepemimpinannya sebagai berikut :
          Dalam menggerakan bawahannya lebih sering mepergunakan sistem perintah;
          Dalam menggerakan bawahan senang bergantung pada pangkat dan jabatannya;
          Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan;
          Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan;
          Sukar menerima kritik dari bawahannya;
          Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
Tipe paternalistis.
Seorang pemimpin bertipe paternalistis memiliki ciri-ciri dalam kepemimpinannya sebagai berikut :
          Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa;
          Bersikap terlalu melindungi (over protective);
          Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk ikut mengambil keputusan;
          Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif;
          Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya;
          Sering bersikap maha tahu.
Tipe kharismatis.
Seorang pemimpin yang kharismatis mempunyai daya penarik yang amat besar dan oleh karena itu pada umumnya memiliki pengikut dalam jumlah besar, meskipun para pengikut tersebut sering tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin tersebut. Sulit untuk mengetahui mengapa seseorang menjadi pemimpin yang kharismatis, karena dari mana asalnya kharismanya memang sulit untuk ditelusuri. Sering disebutkan bahwa pemimpin yang kharismatis diberkahi kekuatan gaib. Kekayaan, profil, kesehatan tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk kharisma. Sebagai contoh : Mahatma Gandhi bukanlah orang kaya yang ataupun mememiliki wajah yang tampan.
Tipe demokratis.
Seorang pemimpin yang demokratis memiliki ciri-ciri dalam kepemimpinannya sebagai berikut :
          Dalam proses penggerakan bawahan melalui kritik tolak dari pendapat bahwa manusia adlah makhluk yang termulia;
          Selalu berusaha menyelaraskan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari para bawahannya;
          Senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya;
          Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan kerja tim dalam usaha mencapai tujuan;
          Dengan ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian dibandingkan dan diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi tetap berani untuk berbuat kesalahan yang lain;
          Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses dari pada dia sendiri;
          Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai seorang pemimpin.
Ada juga yang mengatakan 6 tipe pemimipin dengan bahasa lain, yaitu:
1) Visionary atau Kepemimpinan dengan Visi, yang mampu membawa orang pada tujuan impian bersama. Tipe ini dibutuhkan pada saat terjadinya ketidak pastian atau dibutuhknnya perubahan.
2) Coaching atau Gaya Pembinaan, yang lebih mengutamakan hubungan inter-personalseorang dengan seorang untuk mencapai tujuan organisasi, lebih pas untuk melestarikan kemapanan.
3) Affiliate atata Kepemimpinan Kerja sama, yang lebih mengutamakan harmoni, sangat bagus untuk masa-masa susah dan memotivasi tim yang sedang dalam krisis.
4) Democratic Kepemimpinan demokrasi, mengedepankan pendapat dan pandangan semua orang, dan konsesus dan keinginan bersama adalah pendapat tertinggi.
5) Pacesetting Kepemimpinan Memacu Kemajuan, sangat dibutuhkan untuk memotivasi team dalam mengejar ketinggalan atau untuk mencapai target yang luar biasa.
6) Commanding atau Kepemimpinan Otoriter, yang lebih umum dipakai untuk mengatasi kemelut internal.

II.   KEPEMIMPINAN
Menurut stoner kepemimpinan adalah sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas. Ada tiga implikasi penting, pertama, kepemimpinan melibatkan orang lain ( bawahan atau pengikut ), kwalitas seorang pemimpin ditentukan oleh bawahan dalam menerima pengarahan dari pemimpin. Kedua, kepemimpinan merupakan pembagian yang tidak seimbang diantara para pemimpin dan anggota kelompok. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan beberapa dari kegiatan anggota kelompok dan sebaliknya anggota kelompok atau bawahan secara tidak langsung mengarahkan kegiatan pimpinan. Ketiga kepemimpinan disamping dapat mempengaruhi bawahan juga mempunyai pengaruh. Dengan kata lain seorang pimpinan tidak dapat mengatakan kepada bawahan apa yang harus dikerjakan tapi juga mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintah pemimpin.
2.1   Pendekatan Kepemimpinan
Untuk mempelajari kepemimpinan menggunakan tiga pendekatan.
Pendekatan pertama, bahwa kepemimpinan itu tumbuh dari bakat, kedua kepemimpinan tumbuh dari perilaku. Kedua pendekatan diatas berasumsi bahwa seseorang yang memiliki bakat yang cocok atau memperlihatkan perilaku yang sesuai akan muncul sebagai pemimpin dalam situasi kelompok ( organisasi ) apapun yang ia masuki. Pendekatan yang ketiga bersandar pada pandangan situasi ( situasionar perspective ) pandangan ini berasumsi bahwa kondisi yang menentukan efektifitas pemimpin. Efektifitas pemimpin bervariasi menurut situasi tugas yang harus diselesaikan, keterampilan dan pengharapan bawahan lingkungan organisasi dan pengalaman masa lalu pemimpin dan bawahan. Dalam situasi yang berbeda prestasi seorang pemimpin berbeda pula, mungkin lebih baik atau lebih buruk. Pendekatan ini memunculkan pendekatan kontingensi yang menentukan efektifitas situasi gaya pemimpin.
1.                  Pendekatan Personal (Personal Traits of Leadership Approach)
2.                  Pendekatan Perilaku (Behavioral Approach)
3.                  Pendekatan contingency
4.                   
Pendekatan Personal
·                     Pemimpin dan Bukan Pemimpin:
1.                  Ambisisi dan energi
2.                  Hasrat unuk memimpin
3.                  Kejujuran dan keutuhan
4.                  Percaya diri dan tegas
5.                  Kecerdasan dan pengetahuan yang relevanndengan pekerjaan
·                     Pemimpin Efektif dan Pemimpin Tidak Efektif
1. Yang Efektif : GAYA BLAKE & MOUTON
·                     Gaya terpadu (integrated) menjadi Gaya Eksekutif
·                     Gaya yang mendahulukan hubungan menjadi Gaya yang lebih mencintai pengembangan (developer)
·                     Gaya dedikatif menjadi Gaya Otokrat baik (benevolent autocrat)
·                     Gaya mandiri menjadi Gaya Birokrat.
2. Yang Tidak Efektif : GAYA BLAKE & MOUTON
·                     Gaya terpadu (integrated) menjadi Gaya Kompromi (compromiser)
·                     Gaya yang mendahulukan hubungan menjadi Gaya Missionaris
·                     Gaya dedikatif menjadi Gaya Otokratik
·                     Gaya mandiri menjadi Gaya yang lari dari tugas (desserter)

Pendekatan Perilaku
Fokus dari Pendekatan Perilaku :
1. Fungsi-fungsi Kepemimpinan (leadership functions):
·                     fungsi yang terkait dengan tugas atau pekerjaan (task-related functions)
·                     fungsi yang terkait dengan hubungan sosial atau pemeliharaan kelompok(group-maintanance functions)
2. Gaya Kepemimpinan (leadership styles):
·                     Kepemimpinan yang berorientasi pada pekerjaan (task-oriented or job-style)
·                     Kepemimpinan yang berorientasi pada pegawai atau orang-orang (employee-oriented style)
Teori Dua-Dimensi: Kedua dimensi yang diukur : struktur dan pertimbangan. Struktur memberikan gambaran orientasi seseorang terhadap tujuan tugas dan tujuan penugasan. Pertimbangan orientasi : lebih kepada hubungan antar manusia (Blake & Mouton).
Teori Tiga-Dimensi: William J. Reddin : kepemimpinan tidak bisa dilihat dari dua dimensi, orientasi terhadap hubungan dan tugas saja, namun segi efektivitas memainkan peran penting dalam gaya memimpin.
Pendekatan kontinjensi
·                     Suatu teori kemungkinan yang memusatkan perhatian pada kesiapan para pengikut


2.2   Gaya-gaya Kepemimpinan
Secara umum gaya kepemimpinan dibedakan atas 3 macam
a. Gaya kepemimpinan otokratis.
Dalam usaha membawa para pengikutnya ke tujuan dan cita-cita bersama, pemimpin dapat memegang kekuasaan yang ada pada tangannya secara mutlak.  Dalam gaya ini pemimpin bersikap sebagai penguasa dan yang dipimpin sebagai yang dikuasai.
b. Gaya kepemimpinan liberal.
Menurut gaya ini, pemimpin tidak merumuskan masalah serta cara pemecahannya.  Dia mebiarkan saja mereka yang dipimpinnya menemukan sendiri masalah yang berhubungan dengan kegiatan bersama dan mencoba menari cara pemecahannya.  Gaya ini bertolak belakang dengan gaya otokratis.  Dalam gaya ini, tugas pemimpin sekedar menjaga agar mereka yang dipimpinnya berbuat sesuatu.  Terserah mereka apa yang mau dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya.  Gaya ini hanya baik untuk kelompok orang yang betul-betul telah dewasa dan benar-benar tahu apa tujuan dan cita-cita bersama yang harus mereka capai.  Gaya ini juga baik untuk kelompok orang yang berkumpul bukan untuk membicarakan hal-hal yang serius, melainkan untuk tujuan bersantai bersama, seperti dalam malam keakraban yang tidak meminta tanggung jawab besar.
c. Gaya kepemimpinan demokratis.
Gaya ini menciptakan suasana yang demokratis.  Dalam gaya ini, pemimpin berusah membawah mereka yang dipimpin menuju ke tujuan dan cita-cita dengan memperlakukan mereka sebagai sejawat yang sejajar.  Di sini, batas pemimpin dan bawahan menjadi kabur.  Di sini, orang diberi tempat yang sederajat.
Ada juga beberapa gaya kepemimpinan yang lebih luas, yaitu:
Birokratis -- Ini adalah satu gaya yang ditandai dengan keterikatan yang terus-menerus kepada aturan-aturan organisasi. Gaya ini menganggap bahwa kesulitan-kesulitan akan dapat diatasi bila setiap orang mematuhi peraturan. Keputusan-keputusan dibuat berdasarkan prosedur-prosedur baku. Pemimpinnya adalah seorang diplomat dan tahu bagaimana memakai sebagian besar peraturan untuk membuat orang-orang melaksanakan tugasnya. Kompromi merupakan suatu jalan hidup karena untuk membuat satu keputusan diterima oleh mayoritas, orang sering harus mengalah kepada yang lain.
Permisif -- Di sini keinginannya adalah membuat setiap orang dalam kelompok tersebut puas. Membuat orang-orang tetap senang adalah aturan mainnya. Gaya ini menganggap bahwa bila orang-orang merasa puas dengan diri mereka sendiri dan orang lain, maka organisasi tersebut akan berfungsi dan dengan demikian, pekerjaan akan bisa diselesaikan. Koordinasi sering dikorbankan dalam gaya ini.
Laissez-faire -- Ini sama sekali bukanlah kepemimpinan. Gaya ini membiarkan segala sesuatunya berjalan dengan sendirinya. Pemimpin hanya melaksanakan fungsi pemeliharaan saja. Misalnya, seorang pendeta mungkin hanya namanya saja ketua dari organisasi tersebut dan hanya menangani urusan khotbah, sementara yang lainnya mengerjakan segala pernik mengenai bagaimana organisasi tersebut harus beroperasi. Gaya ini kadang-kadang dipakai oleh pemimpin yang sering bepergian atau yang hanya bertugas sementara.
Partisipatif -- Gaya ini dipakai oleh mereka yang percaya bahwa cara untuk memotivasi orang-orang adalah dengan melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini diharapkan akan menciptakan rasa memiliki sasaran dan tujuan bersama. Masalah yang timbul adalah kemungkinan lambatnya tindakan dalam menangani masa-masa krisis.
Otokratis -- Gaya ini ditandai dengan ketergantungan kepada yang berwenang dan biasanya menganggap bahwa orang-orang tidak akan melakukan apa-apa kecuali jika diperintahkan. Gaya ini tidak mendorong adanya pembaruan. Pemimpin menganggap dirinya sangat diperlukan. Keputusan dapat dibuat dengan cepat.
Hersey dan Blanchard (Sutarto, 1991) mengemukakan adanya empat gaya kepemimpinan, yaitu :
1.        Telling, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
§          Tinggi tugas dan rendah berhubungan;
§          Pemimpin memberikan perintah khusus;
§          Pengawasan dilakukan secara ketat;
§          Pemimpin menerangkan kepada bawahan apa yang harus dikerjakan, bagaimana cara mengerjakannya, kapan harus dilaksanakan pekerjaan tersebut, dan dimana pelaksanaannya.
2.        Selling, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
§          Tinggi tugas dan tinggi hubungan;
§          Pemimpin menerangkan keputusan;
§          Pemimpin memberikan kesempatan untuk penjelasan;
§          Pemimpin masih banyak melakukan pengarahan;
§          Pemimpin mulai melakukan komunikasi dua arah.
3.        Participating, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
§          Tinggi hubungan dan rendah tugas;
§          Pemimpin dan bawahan bersama-sama membuat keputusan;
§          Pemimpin dan bawahan saling memberikan gagasan.
4.        Delegating, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
§          Rendah hubungan dan rendah tugas;
§          Pemimpin melimpahkan pembuatan keputusan dan pelaksanaannya kepada bawahan.
Selain itu, gaya kepemimpinan juga dipengaruhi oleh faktor situasional sebagai berikut :
§          Kompleksitas tugas yang harus dilaksanakan.
§          Persepsi, sikap dan gaya yang digunakan oleh para pejabat pimpinan yang menduduki hirarkhi jabatan yang lebih tinggi.
§          Iklim dalam kelompok.
§          Rentang kendali yang paling tepat untuk diterapkan.
§          Ancaman yang dihadapi dari luar keloImpok.

III.  TIPE PEMIMPIN DALAM KEPEMIMPINAN YANG DI INGINKAN
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang tepat untuk organisasi atau kelompok masyarakat saat ini, walaupun tidaklah mudah menerapkan tipe kepemimpinan seperti itu. Tetapi, oleh karena tipe ini dianggap paling ideal, maka diharapkan seorang pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis.
Variasi yang baik dari tipe-tipe kepemimpin ini adalah tipe kepemimpinan yang demokratis sekaligus kharismatis. Dengan demikian keberadaan pemimpin memiliki legitimasi ganda karena dipilih dan menerpakan pola kepemimpinan yang demokratis sekaligus memiliki kharisma di hadapan masyarakatnya.
Tetapi, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat menerapkan berbagai macam tipe memimpin di atas sesuai dengan kondisi dan situasi. Ada kalanya dia bertipe demokratis, tapi dalam kondisi dan situasi yang menuntut dia harus tegas maka sah-sah saja apabila dia bertipe militeristis.
Idealnya, setiap pemimpin harus memiliki kemampuan dari semua kriteria yang telah dijabarkan seperti yang diatas dan dapat dipersatukan didalam dirinya.  Tetapi, dalam kenyataannya, hal yang ideal itu belum tentu dapat terpenuhi.  Oleh karena itu, apapun jenis seorang pemimpin, dia harus menyadari kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya.  Dia harus memanfaatkan apa yang baik dalam dirinya demi tujuan dan cita-cita bersama.  Namun sementara itu, dia harus sadar akan kekurangannya dan harus melengkapi apa yang kurang dalam dirinya itu.

PEMIMPIN YANG BAIK ADALAH YANG DEMOKRATIS DIMANA SELALU MENGUTAMAKAN KERJASAMA DIANTARA MASYARAKAT YANG DIPIMPINNYA UNTUK  MENCAPAI KESUKSESAN BERSAMA, MEMBERI KEBEBASAN UNTUK BERKREASI SERTA TERBUKA ATAS KRITIK UNTUK KEMAJUAN BERSAMA.



Daftar Pustaka


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar